Lokakarya dengan tema “Memastikan Perhatian Konservasi Untuk Keanekaragaman Hayati Spesifik Batu Kapur Di Sulawesi Selatan”

Makassar, 17 Juli 2018. Diseminasi dan lokakarya dengan tema “Memastikan Perhatian Konservasi Untuk Keanekaragaman Hayati Spesifik Batu Kapur Di Sulawesi Selatan” dilaksanakan oleh FFI (Fauna & Flora International) pada tanggal 17 s/d 19 Juli 2018 di Hotel Ibis Makassar yang disupport oleh Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dan Balai TN. Bantimurung-Bulusaraung.

Kegiatan Diseminasi dan Lokakarya ini merupakan penyebarluasan informasi dan konsultasi publik terkait hasil survey yang dilaksanakan oleh FFI dari tahun 2016 hingga 2018 yang terdiri dari 3 (tiga) komponen yaitu : (1) Kajian karst Maros Pangkep; (2) Analisa daftar merah IUCN (red list) jika ditemukan jenis-jenis yang dianggap kritis oleh LIPI; (3) Kegiatan penyadartahuan kepada para pihak di kawasan karst Maros-Pangkep (KKMP). Kegiatan deseminasi dibuka oleh Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc yang juga menyampaikan materi tentang strategi konservasi karst di Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan.

Peserta yang hadir dalam diseminasi ini dari berbagai pihak, antara lain : Direktorat BPEE, BBKSDA SULSEL, BTN. Bantimurung Bulusaraung, LIPI, Tim Pansus DPRD (Ranperda pengelolaan kawasan karst Maros-Pangkep), Balai Arkeologi, Balai Cagar Budaya, Universitas Hasanuddin, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Maros dan Pangkep, Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sulawesi Selatan, Indonesian Speleogical Society (ISS), Kelompok Sadar Wisata di KKMP, PT. Semen Bosowa, dan Yayasan Wallaceae. Output dari kegiatan ini, diharapkan dapat menghasilkan strategi konservasi dalam pengelolaan karst Maros-pangkep sehingga pengelolaan kawasan karst dapat berkelanjutan.

Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan



Indeks Berita

Berita Lainnya