ILUSTRASI

Indonesia dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia atau berada di urutan kedua setelah Brazil dalam hal kekayaan seluruh keanekaragaman hayatinya.

Khusus untuk kekayaan hayati burung (avifauna), Indonesia berada di urutan ke empat setelah kolombia, Peru dan Brazil. Di dalam Daftar Burung Indonesia (DBI) Nomor 2, disebutkan bahwa jumlah burung yang pernah tercatat di Indonesia mencapai 1.598 jenis, di mana 372 jenis (23,28 persen) adalah endemik dan 149 jenis (9,32 persen) adalah burung penjelajah (migran). Salah satu kelompok burung migran yang telah terdata di Indonesia merupakan kelompok burung air.

Berdasarkan Konvensi Ramsar (1971), yang dimaksud dengan burung air (water fowl) adalah burung yang secara ekologis kehidupannya bergantung kepada keberadaan lahan basah (wetland) meliputi rawa, rawa payau, lahan gambut, perairan tergenang, perairan mengalir, termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari 6 m.

Di Indonesia saat ini terdapat sekitar 184 jenis burung air dari 833 jenis yang ada di seluruh dunia. Ini berarti Indonesia memiliki jumlah jenis burung air paling banyak di seluruh dunia. Burung-burung air ini hidup di empat tipe habitat berbeda yaitu hamparan pasang surut, lahan basah buatan, mangrove dan rawa rumput. Burung air sendiri dikelompokkan menjadi dua, yaitu burung air migran dan burung air penetap. Perbedaan keduanya adalah pada lokasi berbiaknya (breeding site), di mana burung air migran tidak akan berbiak di lokasi migrannya, seperti di Indonesia, tetapi berbiak di belahan bumi utara dan Alaska (Siberia). Sedangkan burung air penetap akan berbiak di lokasi dia mencari makan dan menetap.

Pantai Timur Sumatra

Burung air migran (migratory waterbirds) merupakan bagian kekayaan hayati avifauna di Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Kelompok burung ini banyak yang menjelajah (bermigrasi) melintasi dua musim yang berbeda semisal daerah bermusim dingin dengan musim panas. Jenis-jenis ini selalu melakukan reproduksi (breeding) di belahan bumi utara saat musim panas dan berpindah pada saat musim dingin ke selatan dan ekuator untuk mencari makan, biasanya lebih dikenal sebagai daerah "transit", salah satunya adalah pesisir Kabupaten Deli Serdang.

Burung-burung ini sangat beragam jenisnya dan terdiri atas berbagai suku pula. Umumnya burung air bermigrasi ini tergolong dalam kelompok burung pantai (shorebird/waders) yang merupakan bagian dari burung air yang cukup banyak berkunjung ke perairan dan pesisir. Burung yang paling umum ditemukan dan dikenal masyarakat serta merupakan burung air penetap (resident) adalah jenis-jenis dari suku Ardeidae (seperti cangak, kuntul dan ayam-ayaman), Ciconiidae, Anatidae, Rallidae, Phalacrocoracidae dan Laridae.

Selain burung air penetap, burung air migran juga terdapat dalam jumlah yang cukup banyak, tidak kurang dari 5.000 ekor dengan jenis-jenis yang sangat beragam, lebih kurang ditemukan ada sekitar 29 jenis. Kelompok burung air ini berasal dari beberapa suku/famili, yaitu Charadriidae (6 jenis), Scolopacidae (19 jenis) Recurvirostridae (2 jenis), Glareolidae (1 jenis) dan Laridae (1 jenis).

Beberapa jenis burung air migran yang terdapat di pesisir timur Sumatera Utara khususnya Deli Serdang antara lain Cerek besar (Pluvialis squatarola), Cerek kernyut (Pluvialis fulva), Cerek-pasir mongolia (Charadrius mongolus), Gagang-bayam belang (Himantopus himantopus), Gagang-bayam timur (H. leucocephalus), Gajahan besar (Numenius arquata), Gajahan pengala (N. phaeopus), Gajahan timur (N. madagascariensis), Biru laut (Limosa spp.), Trinil-lumpur Asia (Limnodromus semipalmatus), Kedidi besar (Calidris tenuirostris) serta beberapa jenis lainnya.

Beberapa jenis burung air migran ini tergolong berstatus rentan (Vulnerable) menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) Red list. Selain itu, terdapat lebih dari 18 jenis burung air penetap di wilayah pesisir ini, antara lain Belibis batu (Dendrocygna javanica), Cangak abu (Ardea cinerea), Cangak merah (A. purpurea), Kuntul besar (Casmerodius albus), Kuntul perak (E. intermedia), Kuntul kecil (E. garzetta), Bangau bluwok (Mycteria cinerea), Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus) dan Pecuk-padi kecil (Phalacocorax niger) serta beberapa jenis lainnya yang biasanya juga dikonsumsi oleh masyarakat. Dua jenis dari burung air penetap ini tergolong rentan (Vulnerable) berdasarkan IUCN red list, yaitu Bangau Bluwok dan Bangau Tongtong, dimana kelangsungan populasi kedua jenis bangau saat ini semakin mengalami tekanan dan penurunan jumlah.

Berbagai jenis burung air akan melakukan perpindahan (migrasi) untuk menghindari musim dingin di lokasi berbiaknya (breeding site) di belahan bumi utara dan Alaska (Siberia) menuju lokasi mencari makan di Asia Timur, Australia, pulau-pulau di Pasifik Barat dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan salah satunya adalah kawasan Pesisir Timur Sumatera Utara. Burung-burung ini memanfaatkan kawasan lahan basah Indonesia, salah satunya pesisir Deli Serdang sebagai lokasi persinggahan sementara (transit) untuk beristirahat, mencari makan dan mengumpulkan energi sebagai persiapan untuk melanjutkan perjalanan. Burung-burung "pendatang" dari jauh ini biasanya dapat kita lihat di Pesisir Timur Sumatera Utara sekitar bulan November hingga Maret tiap tahunnya, di mana di daerah asalnya sedang mengalami musim dingin.

Dalam melakukan migrasinya, burung-burung ini memiliki sebuah jalur geografis yang selalu dilalui setiap tahun pada musim migrasinya yang dikenal dengan nama "jalur terbang (flyway)". Di seluruh dunia dikenal ada 8 jalur terbang, yaitu Pacific Americas, Missisippi Americas, Atlantic Americas, East Atlantic, Black sea/Mediterranean, West Asian-African, Central Asian dan East Asian-Australasian. Wilayah Indonesia sendiri masuk ke dalam jalur terbang East Asian-Australasian (Asia Timur-Australasia) yang membentang dari Rusia timur jauh dan Alaska ke arah selatan melalui Asia Timur dan Asia Tenggara hingga Australia dan Selandia Baru, melewati 22 negara, termasuk wilayah Indonesia.

Indonesia sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang yaitu sekitar 81.000 km merupakan sebuah kawasan yang sangat potensial sebagai habitat beraneka jenis burung air, di mana sebagian besar wilayah lahan basahnya selalu dikunjungi oleh ribuan ekor burung air bermigrasi setiap tahun.

Berangkat dari hal tersebut, maka pemerintah Indonesia telah bergabung kedalam Kemitraan Jalur Terbang Asia Timur Australasia (East Asian-Australasian Flyway Site Network), di mana kemitraan ini pertama kali diluncurkan pada November 2006. Kemitraan ini terdiri dari unsur pemerintah, organisasi non pemerintah (Ornop) dan organisasi antar pemerintah yang mengakui isi text dan mendukung tujuan dan aksi kemitraan. Keanggotaannya terus terbuka termasuk bagi sektor bisnis internasional.

Sasaran akhir dari kemitraan ini adalah burung air bermigrasi dan habitatnya di Jalur Terbang Asia Timur-Australasia diakui dan dilestarikan untuk kepentingan masyarakat dan keanekaragaman hayati. Sedangkan tujuan kemitraan ini adalah:

1. Mengembangkan Jaringan Kerja Jalur Terbang dari lokasi yang memiliki kepentingan internasional bagi pelestarian burung air bermigrasi, yang dibangun berdasarkan pencapaian yang diperoleh oleh jaringan APMWCS (Asia Pacific Migratory Waterbird Conservation Strategy).

2. Memperkuat komunikasi, pendidikan dan penyadartahuan publik mengenai berbagai nilai burung air bermigrasi dan habitatnya.

3. Memperkuat kegiatan penelitian dan pemantauan jalur terbang, membangun pengetahuan dan mempromosikan pertukaran informasi mengenai burung air dan habitatnya.

4. Membangun kapasitas para pengelola sumber daya alam, para pembuat keputusan dan pemangku kepentingan lokal terkait dengan pengelolaan burung air dan habitatnya.

5.Mengembangkan, khususnya bagi jenis dan habitat prioritas, berbagai pendekatan lingkup jalur terbang untuk memperkuat status pelestarian burung air bermigrasi.

Habitat Shelter Burung Air Migran

Hingga saat ini dari 96 lokasi yang telah ditetapkan/dinominasikan sebagai Jaringan Kerja Jalur Terbang wilayah Asia Timur-Australasia (East Asian-Australasian Flyway Site Network) untuk Indonesia sendiri hanya baru 1 lokasi, yaitu Taman Nasional Wasur yang berada di Propinsi Papua. Untuk masa mendatang diharapkan Indonesia dapat menominasikan lebih banyak lagi lokasi sehingga kawasan-kawasan penting bagi perlindungan burung migran dapat diselamatkan dan dilestarikan.

Selain TN Wasur yang telah ditetapkan sebagai lokasi dalam jaringan kerja jalur terbang, sebenarnya masih banyak lagi lokasi lahan basah di Indonesia yang potensial sebagai habitat burung air dan lokasi "transit" burung air bermigrasi, salah satunya adalah Pesisir Timur Sumatera Utara. Bahkan sejak 2001, Pesisir Timur Sumatera Utara ini telah ditetapkan sebagai Kawasan Penting Bagi Burung (Important Bird Area /IBA) oleh Birdlife International yang berarti bahwa wilayah ini merupakan salah satu kawasan yang mendukung kehidupan spesies burung dan secara internasional kawasan ini juga penting dalam pelestarian keanekaragaman hayati.

Kawasan ini mencakup beberapa kabupaten, yaitu Langkat, Deli Serdang dan Serdang Bedagai. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan oleh Sumatera Rainforest Institute (SRI) sejak tahun 2007, populasi terbesar burung air migran terdapat di pesisir Kabupaten Deli Serdang yang mencapai sekitar 5000 ekor. Di kabupaten ini populasi burung air migran tersebar di beberapa lokasi seperti di Kecamatan Percut Sei Tuan (Desa Tanjung Rejo, Percut dan Pematang Lalang) serta Kecamatan Pantai Labu (Desa Sei Tuan, Bagan Serdang, Rugemuk) dan beberapa wilayah pesisir lainnya. Di lokasi-lokasi ini tercatat sekitar 47 jenis burung air, di mana 29 jenis di antaranya merupakan burung air migran. Ini berarti dari sekitar 184 jenis burung air yang ada di Indonesia, sekitar 25 persen terdapat di Pesisir Timur Kabupaten Deli Serdang.

Saat ini, dengan potensi dan kepentingannya yang sangat besar tersebut bagi burung air, terutama burung air migran, kawasan pesisir timur ini tidak semerta-merta terbebas dari ancaman dan kerusakan. Hampir seluruh wilayah pesisir di kabupaten tersebut terjadi aktivitas perusakan, khususnya di kawasan hutan mangrove. Aktivitas terbesar yang sangat mengancam kelestarian hutan mangrove ini adalah perubahan fungsi hutan mangrove menjadi perkebunan sawit dan pertambakan, disamping juga ancaman-ancaman lainnya seperti reklamasi pantai dan pencemaran. Seluruh aktivitas mempercepat terjadinya penghilangan habitat bagi flora dan fauna pesisir, khususnya burung air dan burung migran.

Oleh karena itu, sangat dibutuhkan peran aktif seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga dan menyelamatkan kawasan pesisir ini, terutama dari pihak pemerintah daerah sebagai pemangku dan pembuat kebijakan. Dengan wewenangnya tersebut, diharapkan kepada pemerintah daerah dapat lebih memberi perhatian lebih terhadap upaya penyelamatan dan pelestraian hutan mangrove dan wilayah pesisir yang diimplementasikan dalam bentuk peraturan daerah.

Kita dapat mencontoh apa yang dilakukan oleh Pemerintah Papua Selatan, di mana mereka bersama dengan pemerintah pusat menetapkan Taman Nasional Wasur sebagai kawasan pelestarian alam. Selain itu, pemerintah daerah Papua Selatan ini juga sangat konsern terhadap pelestarian burung air dan habitatnya, sehingga mereka juga telah mendorong TN Wasur ini untuk ditetapkan/dinominasikan sebagai Jaringan Kerja Lokasi Jalur Terbang Asia Timur-Australasia.

Banyak keuntungan dan manfaat yang bisa diperoleh oleh mitra termasuk pemerintah daerah Deli Serdang bilamana bergabung di dalam kemitraan/jaringan kerja ini, yaitu:

1. Pengakuan keterlibatan dalam inisiatif yang telah diakui secara internasional dan telah berjalan selama lebih dari 10 tahun.

2. Pengakuan internasional bagi lokasi yang memiliki kepentingan internasional bagi burung air migran.

3. Pengakuan sumbangan yang diberikan oleh masing-masing lokasi terhadap kerangka kerja Jalur Terbang.

4. Penyediaan mekanisme untuk bersama pengelola lokasi lainnya terlibat dalam mengantarkan keluaran pelestarian jalur terbang.

5. Akses terhadap kerjasama penelitian pada lokasi lain dalam Jaringan Kerja terkait dengan jenis-jenis yang secara bersama-sama terdapat di kedua lokasi tersebut.

6. Meningkatkan penyadartahuan lokal terkait dengan kepentingan lokasi.

7. Memberikan suatu model untuk mendorong keterlibatan masyarakat yang lebih besar dalam upaya pelestarian burung air migran.

8. Meningkatkan kesempatan untuk mengakses pendanaan internasional dan nasional.

9. Akses terhadap pangkalan informasi dan pengetahuan yang lebih luas terkait pelestarian burung air migran.

10. Akses terhadap kesempatan pengembangan kapasitas.

Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang juga akan selaras dengan program nasional Departemen Kehutanan serta program International yang digerakkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) terkait Keanekaragamanhayati dan upaya pengurangan dampak perubahan iklim. Maka dengan masuknya atau mengusulkan diri untuk masuk dalam mitra pelesatarian jalur terbang burung air migran ini dengan sendirinya mendapatkan tempat sebagai pemerintah daerah yang sangat bertangungjawab dan memiliki citra baik terhadap persoalan biodiversity & perubahan iklim dimanta Nasional dan Internasional.

SRI sebagai NGO yang berkonsentrasi di bidang pelestarian sumberdaya alam hayati dan pengembangan masyarakat telah merintis upayanya sejak tahun 2006, untuk melindungi dan melestarikan burung air migran dan habitatnya serta kehidupan masyarakat sekitarnya. Salah satu upaya yang dilakukan SRI saat ini adalah melalui program Konservasi Burung Air Migran dan Habitatnya di Pesisir Timur Kabupaten Deli Serdang. Program yang didanai program dana hibah mikro atau Small Grant yang bersumber dari Asian Waterbird Conservation Fund (AWCF)/ WWF Hongkong, di mana program rintisan kecil ini dilaksanakan pada Bulan Maret 2011 hingga April 2012 dan tentunya tetap berharap bahwa rintisan ini bisa mengembang menjadi program yang lebih berkelanjutan di masa depannnya.

Program konservasi burung migran nantinya bertujuan untuk: (1) Mengumpulkan data dan informasi mengenai keberadaan burung air bermigrasi termasuk data jenis, jumlah/populasi, penyebaran, ancaman serta habitatnya, (2) Mensosialisasikan hasil monitoring dan pengumpulan data burung pantai bermigrasi dan burung air lainnya yang ada di Kabupaten Deli Serdang, dan (3) Menghasilkan sebuah dokumen tentang nilai penting kawasan pesisir Kabupaten Deli Serdang sebagai habitat burung air dan burung pantai bermigrasi yang juga penting secara internasional.

Melalui program ini akan dihasilkan data dan output yang sangat penting sebagai bahan masukan dan informasi mengenai kepentingan daerah pesisir Sumatera Utara, khususnya Kabupaten Deli Serdang, termasuk didalamnya terkait dengan fungsinya sebagai habitat burung air dan salah satu lokasi persinggahan burung pantai bermigrasi di Indonesia.

Harapan utamanya adalah para pembuat kebijakan, terutama pemerintah daerah termasuk legislative & eksekutif dapat memberikan perhatian serius pada upaya melestarikan dan memanfaatkan kawasan pesisir di daerahnya ini secara berkelanjutan.

Untuk ke depannya SRI akan terus berupaya untuk melakukan pengelolaan wilayah Pesisir Timur Sumatera Utara dalam kerangka melestarikan burung air migran dan habitatnya demi kepentingan masyarakat sekitarnya dan keanekaragaman hayati.

Berangkat dari pemaparan diatas maka beradaan burung migran merupakan sebuah anugerah atau berkah dari maha pencipta sehingga suatu perhatian internasional ketika jenis burung ini menjadi perhatian masyarakat dunia. Uniknya, burung ini melintas dan atau memiliki habitat di pesisir kabupaten Deli Serdang sehingga ada harapan pemerintah kabupaten dan masyarakat Deli Serdang diberikan tanggungjawab oleh sang Maha Pencipta untuk memberikan perhatian yang kuat dan serius sebagai penerima amanah alam , yang tentunya belum tentu diberikan kepada wilayah lain di Indonesia dan dunia atau kemudian kita sebagai Pemerintah Daerah dan Masyarakat tidak memperdulikan Amanah Alam ini?. Semoga tulisan ini mampu memberikan pencerahan bagi kita semua.



Indeks Berita

Berita Lainnya