TWA. Nanggala III

TAMAN WISATA ALAM NANGGALA III

 

 

Sejarah

Berdasarkan peta tata batas yang ditetapkan oleh Zelf Bestuur no. 89 tgl 16 februari 1932 kawasan hutan yang terletak di kabupaten luwu merupakan kawasan hutan lindung.

Termasuk kawasan Nanggala III sebelumnya merupakan kawasan hutan lindung yang ditunjuk berdasarkan tata guna hutan kesepakatan. Kawasan ini diusulkan menjadi kawasan konservasi taman wisata alam berdasarkan surat Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Sulawesi Selatan nomor 101/Kwss-6/1/1990 tanggal 18 Januari 1990.

Usulan ini didukung oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam melalui surat nomor 2435/DJ-VI/TN/90 tanggal 24 Nopember 1990 yang ditujukan kepada Menteri Kehutanan.

Menteri Kehutanan kemudian menunjuk sebagian kawasan Nanggala III seluas ± 500 Ha untuk diubah fungsinya menjadi taman wisata alam melalui keputusan nomor 663/Kpts-II/1992 tanggal 1 Juli 1992.

 

Dasar Hukum, Luas dan Letak

Kawasan ini ditetapkan berdasarkan Kepmenhut No. SK. 6590/Menhut-VII/KUH/2014 tgl 28 Oktober 2014 seluas 90.931,63 ha

Secara geografis terletak pada Lintang: 02º 13’ 06” LS - 02º 32’ 40” LS dan Bujur: 120º 45’ 52” BT - 121º 17’ 32” BT.

Sedangkan secara admnistratif terletak di wilayah Kecamatan Telluwanua Kota Palopo. Dengan batasnya adalah sebagai berikut: Sebelah Utara: Desa Battang, Wara Utara, juga Gunung sampuna dan HL nanggala III; Sebelah Timur: Desa to jambu, HL nanggala II dan III; Sebelah Selatan: HL nanggala II dan III; Sebelah Barat: Desa Battang, Wara Utara.

 

Kondisi fisik

Topografi: terdiri dari daratan yang bervariasi mulai dari bergelombang, berbukit-bukit sampai bergunung. Kemiringan lereng antara 15 % - 80 % dan ketinggiannya antara 500 – 1485 mdpl.

Geologi: formasi geologi kawasan Nanggala III terdiri dari Batuan Sedimen Meozoikum Tak Dibedakan, Batuan Neozoikum, Batuan Kersik dan Pasir.

Tanah: jenis tanah adalah Podsolik Coklat dan bertekstur lempung berpasir.

Iklim dan cuaca: Menurut klasifikasi Schmidt – Ferguson Cagar Alam Faruhumpenai termasuk tipe iklim A; Curah hujan rata-rata 2.200 mm/tahun; Suhu udara berkisar 18° C s.d. 29° C.

Hidrologi: Termasuk daerah yang mudah untuk mendapatkan air, karena pada daerah ini banyak terdapat sumber air yang membentuk sungai kecil. Selain itu banyak juga terdapat sumber air yang berada di pinggir jalan poros antara Palopo – Tana Toraja. Di dalam kawasan terdapat juga air terjun yang bernama Sarambu Ma’gandang. Fluktuasi debit air sungai di kawasan Nanggala III relatif konstan sepanjang tahun.

 

Potensi kawasan

Potensi ekosistem: Hutan Hujan Tropis Pegunungan Bawah.

Potensi flora: Pakis Perak, Paku Sepat, Paku Ecel, Paku Cae, Damar, Tusam, Uru, Cempaka, Pantobaka, Durian, Kembang Sepatu, Cempedak, Sukun, Kantung Semar, Kayu Angin, Ketapang.

Potensi fauna: Kuskus, Babi Hutan, Ceba, Kuntul Perak, Bangau Hitam, Elang, Elang Sulawesi, Marpati Hutan, Tekukur, Walet Gunung, Raja Udang, Rangkong Sulawesi, Srigunting, Biawak Air Tawar, Kumbang Tanduk

 

Aksesibilitas

Jarak dari kota Makassar (Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan) ke TWA. Nanggala III adalah ± 420 km.

Melalui jalan poros atau jalan provinsi dengan kondisi yang relatif baik.

Waktu dibutuhkan jika melalui jalan darat adalah ± 8 jam.

Ada 2 alternatif jalur untuk dapat mencapai kawasan ini, yaitu:

  • Rute perjalanan mulai dari Makassar – Maros – Pangkep – Barru – Parepare – Sidrap – Palopo – TWA. Nanggala III.
  • Rute perjalanan mulai dari Makassar – Maros – Pangkep – Barru – Parepare – Sidrap – Enrekang – Makale – Rantepao – TWA. Nanggala III

 

 

 



Indeks Berita

Berita Lainnya