TWA. Sidrap

TAMAN WISATA ALAM SIDRAP

 

 

Sejarah

Kawasan ini sebelumnya merupakan satu kesatuan dengan kelompok hutan Batumilla yang berfungsi sebagi hutan lindung.

Kelompok Hutan Batumilla ditunjuk sebagai kawasan hutan lindung oleh Menteri Pertanian melalui surat keputusan nomor 760/Kpts/Um/10/1982 tanggal 12 Oktober 1982.

Taman Wisata Alam Sidrap ditunjuk sebagai Kawasan konservasi berdasarkan Surat Keputusan Menteri kehutanan nomor 722/Kpts-II/1992 tanggal 12 Oktober 1992 dengan luas ± 500 hektar.

Kawasan ini ditata batas luar pada tahun 1995/1996 dan telah ditetapkan sebagai kawasan hutan tetap oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan dengan keputusan nomor 236/Kpts-II/1997 tanggal 9 Mei 1997.

Berdasarkan keputusan penunjukan sebagian kawasan menjadi taman wisata alam (perubahan fungsi), pada tahun 2000 diadakan penataan batas fungsi, sehingga luas TWA. Sidrap menjadi 246,25 hektar.

 

Dasar Hukum, Luas dan Letak

Kawasan ini ditetapkan berdasarkan SK. Menteri kehutanan dan perkebunan No. 196/Kpts-II/2003 Tanggal 24 Juli 2003 seluas ± 246.25 ha

Secara geografis terletak pada Lintang: 03º 52’ 42” LS  -   03º 59’ 21” LS dan Bujur: 119º 44’ 16” BT - 119º 52’ 22” BT.

Sedangkan secara admnistratif terletak di wilayah Desa Madenra, Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap. Dengan batasnya adalah sebagai berikut: Sebelah Utara:; Sebelah Timur:; Sebelah Selatan:; Sebelah Barat:.

 

Kondisi fisik

Topografi: keadaan lapangan kawasan bervariasi dari datar, bergelombang, sampai dengan berbukit. Kelerengan lapangan bervariasi antara 0 – 30 % dan ketinggiannya antara 30 – 350 mdpl.

Geologi: jenis tanah di kawasan Taman Wisata Alam Sidrap dan sekitarnya adalah Alluvial Kelabu Tua.

Tanah: terdiri dari Batuan Sedimen Alluvium dan Undak serta Sedimen Neogen.

Iklim dan cuaca: Menurut klasifikasi Schmidt – Ferguson Cagar Alam Faruhumpenai termasuk tipe iklim A/B; Curah hujan rata-rata 2.500 – 3.000 mm/tahun; Kelembaban: 90 – 100%. Suhu udara berkisar 28° C s.d. 33° C.

Hidrologi: -.

 

Potensi kawasan

Potensi ekosistem: Hutan Pamah Sekunder.

Potensi flora: Kenanga, Nangka, Beringin, Kemiri, Jabon, Eukaliptus, Jati, Bitti, Bambu, Aren, Rotan, Pandan.

Potensi fauna: Kuskus, Kera Hitam, Babi Hutan, Rusa Timor, Kelelawar, Ayam Hutan Merah, Raja Udang, Rangkong Sulawesi, Biawak Air Tawar, Ular Sawah, Kadal, Kupu-kupu.

 

Aksesibilitas

Jarak dari kota Makassar (Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan) ke TWA. Sidrap adalah ± 195 km. Kondisi jalan menuju kawasan ini relatif baik. Waktu dibutuhkan jika melalui jalan darat adalah ± 4 jam.

Rute perjalanan mulai dari Makassar – Maros – Pangkep – Barru – Parepare – Sidrap – TWA. Sidrap.

 

 

 



Indeks Berita

Berita Lainnya