TWA. Malino

TAMAN WISATA ALAM MALINO

 

 

Sejarah

Tahun 1924, kelompok hutan Lompobattang seluas 36.931 ha meliputi Kab. Gowa diperkirakan luasnya 24.930 ha. Kelompok hutan Lompobattang tersebut termasuk kelompok hutan Malino yang telah ditata batas/dikukuhkan pada jaman Belanda dengan proses verbal.

Tahun 1932, disahkan di Buitenzoorg (Bogor) oleh Kepala Jawatan Kehutanan.

Tahun 1967, kelompok hutan Lompobattang diperluas ke kelompok hutan Malino (seluas 2.190 ha) dan Bonto Maya (seluas 5.502 ha). Dan telah ditindaklanjuti dengan penataan batas (pemancangan pal batas) di lapangan, namun panitia tata batas belum terbentuk maka hasil peta pemancangan pal batas tersebut belum ditandatangani, sedangkan yang telah ditanda tangani hanya pengumuman pemancangan batas oleh pejabat berwenang antara lain : Kepala Wilayah Kecamatan Tompobulu, Kepala Desa Parigi, Malino, Kepala Kehutanan Kab. KDH Tingkat II Gowa dan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel.

Tahun 1982, telah disahkan Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Hutan (RPPH) atau dikenal dengan nama Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Provinsi Sulsel oleh Menteri Kehutanan.

Tahun 1988, dilakukan orientasi batas pada kelompok hutan Lompobattang oleh BIPHUT Wilayah VII dan hasilnya dituangkan dalam laporan dan peta.

Tahun 1991, kelompok hutan produksi terbatas yang berada di komplek hutan Malino telah dirubah fungsinya menjadi hutan konservasi (Taman Wisata Alam) dengan luas 3.500 ha.

Tahun 1995, rencana tata batas telah disetujui oleh Panitia Tata Batas Tingkat II Kab. Gowa

Tahun 1996, dilaksanakan pemancangan batas sementara Enclave di 4 lokasi yaitu : Eulembang, Damalumpoa, Malenteng dan Parabang.

 

Dasar Hukum, Luas dan Letak

Kawasan ini ditunjuk berdasarkan SK. Menhut No. 420/Kpts-II/1991 tgl 19 Juni 1991 seluas ± 3.500 ha

Secara geografis terletak pada Lintang: 50 31’ 8” – 50 33’ 42” LS dan Bujur: 1190 42’ 57” – 1190 45’ 00” BT.

Sedangkan secara admnistratif terletak di wilayah Desa Malino, Desa Bulutana, Desa Gantarang Kec. Tinggimoncong Kab. Gowa. Dengan batasnya adalah sebagai berikut: Sebelah Utara:; Sebelah Timur:; Sebelah Selatan:; Sebelah Barat:.

 

Kondisi fisik

Topografi: keadaan topografi secara umum berbukit bukit, lembah hingga pegunungan dengan kelerengan yang curam. Bagian yang relative datar sampai landai khususnya pada bagian utara kawasan berupa hutan pinus dan areal terjal berada di sebagian kecil sebelah utara kawasan dan sebagian besar sebelah selatan kawasan. Kelerengan 10 – 60% pada lembah dan sungai, 40 – 90% pada daerah pegunungan dan ketinggian 1000 – 1600 mdpl.

Geologi: -.

Tanah: formasi batuan tergolong komplek mediterania, coklat regosol dan litosol dengan batuan induknya tifa dan batuan vulkan.

Iklim dan cuaca: Menurut klasifikasi Schmidt – Ferguson Cagar Alam Faruhumpenai termasuk tipe iklim C; Kelembaban: 50 – 64%. Suhu udara berkisar 18 – 26° C.

Hidrologi: Terdapat beberapa aliran sungai permukaan yaitu sungai Bulang, Panbolo, Balina, anak sungai Tanggar dan anak sungai Takapala. Kesemuanya sungai tersebut mengalir ke muara sungai Jeneberang yang merupakan salah satu sumber air masyarakat kota makassar. Dan diantara sungai tersebut ada yang merupakan aliran dari sungai Takapala dan air terjun sungai Bulan..

 

Potensi kawasan

Potensi ekosistem: -.

Potensi flora: Pinus, akasia, jabon, beringin, ekaliptus, edelweiss, rotan, kenanga, nangka dan berbagai jenis perdu

Potensi fauna: nuri, kera hitam, rusa, babi hutan, biawak, jalak kerbau, raja udang, gelatik, dan berbagai jenis kupu-kupu.

 

Aksesibilitas

Jarak dari kota Makassar (Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan) ke TWA. Malino adalah ± 70 km. Kondisi jalan menuju kawasan ini relatif baik. Waktu dibutuhkan jika melalui jalan darat adalah ± 2 jam. Rute perjalanan mulai dari Makassar –Sungguminasa – Pakatto – TWA. Malino.

 

 



Indeks Berita

Berita Lainnya